Sabtu, 04 April 2015

Sejarah Polman


Sejarah Polman

Pada tahun 1976 pemerintah Indonesia dan pemerintah Konfederasi Swiss, yang dalam pelaksanaannya Pemerintah Indonesia diwakili oleh ITB dan Pemerintah Swiss diwakili Swisscontact mengadakan kerjasama bilateral dalam bidang pendidikan, yang diwujudkan dengan membentuk lembaga pendidikan politeknik di Indonesia. Hasil dari kerjasama ini, dibentuklah politeknik yang diberi nama Politeknik Mekanik Swiss - ITB (PMS-ITB) yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr.Sjarif Thajeb pada tanggal 24 Maret 1977. Meskipun baru diresmikan tahun 1977, namun angkatan mahasiswa pertama sudah mulai masuk sejak tahun 1976.
Pada tahun 1995 kerjasama dengan pemerintah swiss pun berakhir, dan selanjutnya nama politeknik pun diubah menjadi Politeknik Manufaktur Negri Bandung (POLMAN-Bandung). Sementara untuk pendanaan, Polman-Bandung mendapat pinjaman dari Bank Dunia serta proyek-proyek DIP (DUE Like), IGI dan TPSDP.

Konstruksi Dasar Mold 2 Pelat

Konstruksi Dasar Mold 2 Pelat

Konstruksi Mold Plastik Tipe 2 Pelat.


Secara umum Mold Plastik terdiri dari 2 tipe, yaitu 2 Plate Type Mold [MoldTipe 2 Pelat] dan 3 Plate Type Mold [Mold Tipe 3 Pelat]. 2 Plate Type terdiri dari Cavity Plate dan Core Plate, sedangkan untuk 3 Plate Type ditambah Runner Plate.

Pada 2 Plate Type Mold. Cavity Plate digabung dengan Mold Mounting Plate, dan diantara keduanya terdapat Sprue Bush, dan pada Mold Mounting Plate terdapat Locating Ring. Mold Mounting Plate akan diikat dengan Baut [Bolt] kepada Stationery Platen [Platen Tetap] dari Mesin Injeksi. Locating Ring harus dapat dipasang secara pass [tidak koplak] dengan locating pada Stationery Platen, sehingga ketika Nozle Mesin bersentuhan dengan Sprue Bush, lubang Nozle dan lubang Sprue Bush berada pada garis tengah yang sama. Masalah akan timbul bila tidak segaris. Terdapat beberapa ketentuan tertentu antara Sprue Bush dan Nozle Mesin yang harus dipenuhi selain lubang Nozle dan lubang Sprue Bush harus segaris [dibahas terpisah]. Sprue Bush sendiri berfungsi sebagai lubang awal ketika material plastik pertama kali mengalir ke dalam Mold [pada saat Proses Injeksi].

Biasanya sisi Cavity Plate adalah sisi bagian terbaik pada pembentukan Produk, sehingga permukaan yang membentuk produk diperlakukan secara khusus. Seperti di perlakukan Polish sehingga permukaannya sangat licin setara dengan cermin, atau diperlakukan Etching dan Sand Blash sehingga membentuk permukaan yang memiliki kontur, atau juga dibuat Motif tertentu semisal Dasboard kendaraan. Sehingga tidak heran bila Cavity Plate diperlakukan secara istimewa dan sangat hati-hati ketika kita menanganinya, sedikit saja tergores maka urusannya akan panjang, belum lagi buntutnya.

Pada sisi Core Plate terdapat susunan Ejector yang mengikuti lekuk dan bentuk Core Plate sesuai dengan produk yang akan dibuat. Susunan Ejector ini berfungsi untuk mendorong Produk ketika selesai Proses Injeksi, dengan demikian Design Core Plate dan Cavity Plate harus dibuat sedemikian rupa sehingga ketika Mold Terbuka, maka produk harus melekat pada sisi Core Plate. Karena harus mengikuti bentuk Produk maka bentuk Ejector-pun bermacam-macam, ada yang berpenampang Pipih [Blade Ejector], Bulat [Pin Ejector], dan Bulat Selongsong [Sleve Ejector]. Namun ada juga yang dibentuk secara khusus mengukuti permukaan luar Produk seperti bentuk Striper Plate Ejector. Di lapangan kita akan menemui banyak pengembangan dari bentuk-bentuk dasar tersebut.

Umumnya 2 Plate Type Mold menghasilkan Produk yang masih menyatu dengan Runner [aliran material dari Sprue Bush dan setelahnya], sehingga kita harus memisahkan antara Produk dan Runner dengan Nipper Cutting atau Tang Potong untuk mendapatkan hasil potongan yang halus dan rapi. Untuk mendapatkan Produk yang terpisah dengan Runner bisa diaplikasikan sistem Submarine Gate, dan untuk mendapatkan hanya Produk saja yang keluar, maka harus mengaplikasikan sistem Hot Runner [lebih lanjut dibahas terpisah].
Keterangan Gambar Konstruksi Dasar Mold 2 Pelat.

1. Mold Mounting Plate, yang diikat dengan Baut kepada Injection Machine Stationery Platen
2. Cavity Plate
3. Core Plate
4. Core Back-Up Plate [Support Plate]
5. Spacer Block
6. Ejector Plate
7. Ejector Retainer Plate
8. Mold Mouting Plate, yag diikat dengan Baut kepada Injection Machine Moving Platen
9. Core Block, jumlah tergantung jumlah produk yang akan dibuat
10. Locating Ring
11. Sprue Bush
12. Guide Pin [Leader Pin], minimal berjumlah 4 buah pada posisi diagonal simetris
13. Guide Pin Bushing, mengikuti jumlah dan posisi Guide Pin
14. Sprue Puller [Sprue Lock Pin]
15. Ejector, Jumlah dan bentuk tergantung kebutuhan dan design produk
16. Return Pin [Push Back Pin], jumlah 4 buah pada posisi diagonal simetris
17. Stoper Pin, berjumlah 4 buah pada posisi diagonal simetris
18. Product
19. Runner


Short Mold Karena Hold Pressure Terlalu Rendah

Short Mold Karena Hold Pressure Terlalu Rendah


Short Mold Karena Hold Pressure Terlalu Rendah.


Pada proses sebelumnya, yaitu proses Filling [Fill Process] yang melibatkan settingan Fill Pressure, Fill Time, dan Fill Speed terhadap hubungannya dengan masalah Short Mold telah dibahas. Padahal sebenarnya Filling Proses itu sendiri mesti difokuskan terhadap kestabilan proses injeksi secara keseluruhan, jangan sampai masalah Short Mold ini lebih banyak dipengaruhi oleh settingan proses Filling. Sebelum masuk proses selanjutnya [yaitu Proses Holding], perlu dibatasi seberapa besar Short Mold yang terjadi pada produk [kondisi Hold Pressure “Off”], lebih dari itu maka harus diperbaharui dahulu settingannya. 

Memasuki proses Holding. Dengan melibatkan settingan Holding Pressure [Tekanan Tahan] dan Holding Time [Waktu Tahan]. Direkomendasikan untuk mesin yang memiliki minimal 2 tingkatan Holding Pressure dan Holding Time. Sehingga kita bisa atur untuk Holding Pressure Tingkat Pertama [beserta Holding Time Tingkat Pertama] dialokasikan untuk pembentukkan produk, yaitu Akurasi Dimensi [untuk ukuran produk dalam 1/10 mm]. Sedangkan untuk Holding Pressure Tingkat Kedua [beserta Holding Time Tingkat Kedua], sesuai namanya, berfungsi untuk menahan aliran balik dari material cair yang telah dimasukkan ke dalam Mold. Namun demikian untuk mesin yang hanya memiliki 1 Tingkat Holding Pressure [beserta Holding Time], maka fungsinya menjadi rangkap jabatan, yaitu selain berfungsi untuk Pembentukan Akurasi Dimensi Produk, juga sekaligus Menahan Aliran balik dari material cair yang telah dimasukkan ke dalam Mold. 

Secara teori Fisika. Yang bisa dimampatkan atau dikompresikan pada saat proses Holding ini adalah Udara dan Gas, sedangkan zat cair, dalam hal ini material plastik cair, tidak dapat dimampatkan. Faktor Udara berasal dari rongga di dalam Mold, dimana rongga-rongga ini adalah bentuk cetakan terhadap produk plastik yang akan kita buat. Sedangkan Gas berasal dari asap dan uap material plastik cair itu sendiri karena panas yang menyertainya. 

Besaran setting Holding Pressure yang dibuat selain tidak boleh terlalu kecil, juga tidak boleh terlalu besar. Dibandingkan dengan besaran Fill Pressure, maka setting yang dibuat lebih rendah, sekitar 15% sampai 50%, tergantung material plastik yang digunakan [Plastic Specification atau Plastic Properties]. Setting yang terlalu kecil akan Short Mold atau Sink Mark atau Dimensi produk yang terlalu kecil [secara keseluruhan]. Sedangkan setting yang terlalu besar akan membuat masalah Flash. [Lebih lanjut mengenai Flash dan Sink Mark akan dibahas terpisah]. 

Patokan besaran Holding Pressure secara visual bisa dilihat dari mulai timbulnya Flash pada produk yang dihasilkan, maka dapat disimpulkan bahwa setting yang kita buat sudah Over Limit. Sedikit demi sedikit kita setting lebih rendah hingga didapat setting yang dianggap normatif. Mengenai dimensi yang belum tercapai pada setting yang dianggap normatif, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki Mold nya, dan fokus kepada tujuan dimensi yang akan diperbaiki, bila lebih dari satu, maka terlebih dahulu kita petakan posisi-posisinya sehingga akan lebih jelas dan clear soal treatment yang akan kita lakukan. Namun demikian, konstruksi Mold hendaknya memiliki ketahanan terhadap Holding Pressure yang tinggi sehingga memiliki tingkat kepadatan material plastik yang tinggi, kalo sudah demikian produk akan lebih tahan terhadap fisikal test yang akan dibebankan kepadanya. 


Short Mold Karena Fill Speed Terlalu Rendah

Short Mold Karena Fill Speed Terlalu Rendah

Short Mold Karena Fill Speed Terlalu Rendah.


Seperti pada pembahasan sebelumnya bahwa. Material Plastik cair yang disuntikkan atau dimasukkan dengan tekanan ke dalam Mold akan mengalami berbagai hambatan, seperti melewati celah, ruang sempit, alur yang berliku, pembuatan bentuk produk yang sulit disertai banyaknya bentuk sirip, dll. Disamping material plastik cair tersebut [suhu antara 200 °C sampai 260 °C] bersinggungan dengan suhu Mold yang lebih dingin [antara 30 °C sampai 60 °C]. [Lebih lanjut mengenai pengaturan suhu material plastik dan suhu Mold-nya tergantung Material Properties bersangkutan yang merupakan hasil Phisical Test dari suatu standar pengujian – Misalnya JIS untuk pengujian plastik adalah JIS……]. 

Dapat dikatakan juga bahwa material plastik cair tersebut harus cepat mengisi seluruh ruang di dalam Mold sebelum mulai terjadi proses pembekuan/pengerasan karena bersinggungan dengan suhu Mold yang lebih dingin. Pada Proses Injeksi Plastik. Terutama Proses Filling, atau dengan bahasa kita adalah Proses Pengisian, yang artinya mengisi plastik cair ke dalam cetakan, terdapat 3 unsur settingan utama, dan sangat mempengaruhi produk yang dihasilkan, yaitu : 

1. Fill Pressure, atau Tekanan Pengisian. [Untuk Masalah Short Mold sudah di bahas sebelumnya]. 
2. Fill Time, atau Waktu Pengisian. [Untuk Masalah Short Mold sudah di bahas sebelumnya]. dan. 
3. Fill Speed, atau Kecepatan Pengisian. [dibahas pada postingan ini]. 

Dengan effek yang sama persis pada pembahasan Short Mold yang Dikarenakan oleh Fill Pressure yang Terlalu Rendah sehingga perjalanan material cair menjadi sangat perlahan. Demikian juga dengan setting Kecepatan yang Terlalu Rendah. Walaupun kita buat setting Fill Pressure yang tinggi untuk menghalau setiap hambatan di dalam Mold, tetapi kalau tidak disertai setting kecepatan normatif, maka hasilnya akan Short Mold. 

Material yang tidak dapat mengatasi hambatannya akan berakibat pada kecepatan yang kurang dari yang diperlukan, hal ini diperlihatkan oleh garis Actual Line 1. Sebelum mencapai V-P Change Over, perjalanan material sudah mencapai titik atau masuk phase pembekuan dimana material sudah mulai mengeras dan sulit untuk dialirkan. Phase pembekuan di gambarkan pada garis R. Sebaliknya material yang berhasil mangatasi hambatannya akan memliki kecepatan yang diinginkan sehingga bisa melewati V-P Change Over sebelum masuk phase pembekuan. 

Setting Kecepatan Pengisian pada mesin injeksi terdiri dari beberapa langkah dan tingkatan. Kita ambil contoh untuk mesin yang memiliki 4 tingkat kecepatan, atau 6 tingkat kecepatan tetapi 2 kecepatan terakhir kita buat off. Tingkatan 1 [pertama] adalah pembentukan Runner. Karena kita tidak membutuhkan Runner untuk kita kemas, kita buat saja settingan dengan kecepatan tinggi. 

Tingkatan 2 [kedua] adalah disaat material cair menjelang Gate. Kita buat setting rendah untuk menghindari masalah Silver, dan Jetting pada produk terutama disekitar Gate. [Masalah Sliver dan Jetting akan dibahas terpisah]. 

Tingkatan 3 [ketiga] adalah masuk ke dalam pembuatan produk. Kembali kita buat dengan kecepatan agak tinggi. Tingkatan 4 [keempat] adalah menjelang posisi V-P Change Over. Dengan tidak meng-aktifkan Hold Pressure, produk yang dihasilkan harus dalam keadaan sedikit Short Mold. Poinnya adalah, ketika Hold Pressure di aktifkan. Maka produk yang dihasilkan adalah baik, dalam arti kata tidak Short Mold. 

Keadaan tidak normal adalah walaupun Hold Pressure di aktifkan, tetapi produk yang dihasilkan terdapat Short Mold. Maka kita harus cek setting kecepatan pada tingkat berapa yang dibutuhkan untuk setting yang lebih tinggi. Adapun yang kita buat setting kecepatan untuk proses ini adalah Debit Pompa Hidrolik nya. Misalkan suatu mesin injeksi memiliki Pompa Hidrolik dengan Debit yang dihasilkan maksimum sebesar 40 ml/detik atau 40 cm³/detik. Adapun Debit Pompa Hidrolik = Debit Material Cair yang Mengalir Masuk ke Dalam Mold. 

Bila kita buat setting kecepatan 30% rata-rata [dari 4 tingkatan settingan yang disebut di atas], maka Debit material cair yang mengalir ke dalam Mold adalah 40 cm³/detik x 30% = 12 cm³/detik. Pada waktu yang dibutuhkan selama 5 detik, maka jumlah material yang telah dimasukkan ke dalam Mold adalah 12 cm³/detik x 5 detik = 60 cm³. 

Sebagai perbandingan bila kita buat kecepatan 70% rata-rata, maka Debit material cair yang mengalir ke dalam Mold adalah 40 cm³/detik x 70% = 28 cm³/detik. Pada waktu yang dibutuhkan sama, yaitu 5 detik, maka jumlah material yang telah dimasukkan ke dalam Mold adalah 28 cm³/detik x 5 detik = 140 cm³. Dari dua perhitungan tersebut sudah sangat jelas perbedaannya, mudah-mudahan ini memudahkan kita dalam membuat setting kecepatan pada proses Injeksi Plastik. 




Industri Plastik

Industri Plastik


Industri Plastik. 


Sahabat Plastik. Sudah lama kita mengenal Ember dan Gayung sebagai produk berbahan dasar Plastik. Sejak kecil kita sudah sangat akrab dengan barang tersebut, malah ada juga Piring dan Gelas Plastik. Juga ada Sendok, Garpu, Mangkok, dan Wadah Bumbu yang terbuat dari Plastik. Namun tahukah sahabat, aplikasi Plastik tidak hanya sebatas Ember dan Gayung serta barang2 tersebut di atas, tapi sudah merambah ke bidang Elektronik, Otomotif, dan Packaging. Malah sudah lama hal tersebut berlangsung, dan kita tidak menyadarinya. Contoh aplikasi Plastik pada bidang Elektronik : Radio Tape, Mesin Cuci, Komputer, Printer, Kulkas, TV, Kipas Angin, Rice Cooker, Blender, Mixer, dan lain-lain. Contoh aplikasi Plastik pada bidang Otomotif : Lampu Depan Kendaraan, Lampu Sein, Lampu Belakang, Bumper, Dasboard, Casing Kaca Spion, Steer, Interior kendaraan, Casing Motor, Filter Udara, Casing Mesin, dan lain-lain. Contoh aplikasi Plastik pada Packaging (Kemasan) : Tutup Galon air minum, Tutup Botol air mineral, Mankuk agar-agar, Botol Shampoo, Botol Bedak, Botol Kecap, dan lain-lain.

Bila kita ditanya mengenai Industri Plastik, atau kita membaca tulisan Plastic Engineering. Yang pertama kali terbayang dikepala kita adalah Kantung Plastik atau biasa kita sebut Kantung Kresek. Wajar saja kita langsung berpikiran ke arah Kantung Kresek, karena barang inilah yang paling sering dan paling banyak kita jumpai sehari-hari.

Industi Plastik di Indonesia memang masih sedikit yang mengetahui, dan memang sekolah yang khusus mengenai Industri Plastik masih terlalu sedikit, itupun terbatas pada ilmu yang mempelajari pembuatan cetakan untuk Plastik yang biasa disebut Mold [Mold Maker], seperti Polman ITB Bandung dan ATMI Solo. Sedangkan yang khusus mempelajari Proses Injeksi Plastik belum ada, padahal sangat berhubungan erat dengan industri pembuatan Mold tersebut. Di negara-negara Asia lainnya khususnya JepangKorea, dan China telah terlebih dahulu atau telah lama populer teknologi injeksi plastik, sehingga tidaklah mengherankan bila produk-produk plastik mereka membanjiri pangsa pasar Indonesia.
 
Setelah kita mengetahui barang-barang yang terbuat dari plastik tidak hanya sebatas Ember dan Gayung, tapi juga bidang Elektronik serta bidang Otomotifdan Packaging. Rugi rasanya bila kita tidak mengetahui proses pembuatannya. Atau setidaknya ada rasa penasaran untuk mengetahui Proses Pembuatannya, juga proses manufakturnya dari awal sampai ke tangan konsumen. Atau mungkin diantara pembaca ada yang berminat untuk terjun dan berusaha dibidang Injeksi Plastik.

Sahabat Plastik. Blog saya ini khusus untuk membahas Proses Injeksi Plastikdan Manufakturnya, karena dari proses inilah paling banyak aplikasinya untuk bidang-bidang kehidupan manusia seperti pada bidang rumah tangga, Elektronik, Otomotif, dan Packaging malah sampai juga pada bidang alat-alat kedokteran dan rumah sakit.

Short Mold Karena Fill Pressure Time Terlalu Rendah

Short Mold Karena Fill Pressure Time Terlalu Rendah


Short Mold Karena Fill Pressure Time Terlalu Rendah. 


Perjalanan material membutuhkan waktu untuk memenuhi seluruh ruang yang disediakan oleh Mold, yaitu ruang yang disediakan bagi pembentukan Produk dan Runner-nya. Misalkan waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi ruang di dalam Mold adalah 7 detik, tetapi setting waktu yang dibuat adalah 5 detik, sehingga Screw Torpedo tidak pernah mencapai Konfirmasi V-P Change Over. Maka produk yang dihasilkan akan Short Mold. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana kita tahu bahwa waktu yang dibutuhkan pada proses Filling adalah 7 detik?  
 
Q = Qn = Qm Q = C/T [ml/detik] 

Dimana, 
Q : adalah debit Pompa Hidrolik [ml/detik] 
Qn : adalah debit aliran material yang keluar dari Nozle [ml/detik] 
Qm : adalah debit aliran material yang masuk ke dalam Mold [ml/detik] Contoh kasus. 
Berdasakan informasi Produk Designer dan Mold Maker bahwa pembentukkan Produk dan Runner membutuhkan material sebanyak 200 ml. Berdasarkan spesifikasi pompa hidrolik dari mesin injeksi, memiliki maksimal debit [Q] sebesar 40 ml/detik. Maksimal [100%].  

* Mengetahui setting Fill Pressure Time.  
Q = Qm 40ml/1detik = 200ml/Tdetik  
200ml/T detik = 40ml/1detik  
T detik = (200ml x 1detik) / 40ml = 200detik / 40 = 5 detik  

Apabila kita setting kecepatan injeksi yang dibuat sebesar 70% [atau 0.7], maka :  
Qok = (40ml x 0.7) /1detik = 28ml /1detik  
Qok = Qm 28ml/1detik = 200ml/Tdetik  
200ml/T detik = 28/1detik  
T detik = (200ml x 1detik) / 28ml = 200detik / 28 = 7.1 detik [7 detik]  

Apabila kita buat setting Waktu Filling sebesar 5detik dengan kecepatan injeksi sebesar 70%, berapa ml yang masuk ke dalam Mold ?  
Qng = Qok  
?ml/5detik = 200ml/7detik  
?ml = (200ml x 7detik)/5detik = 143ml [Produk Short Mold]   


Short Mold Karena Fill Pressure Terlalu Rendah

Short Mold Karena Fill Pressure Terlalu Rendah

Short Mold Karena Fill Pressure Terlalu Rendah.


Material Plastik cair yang disuntikkan ke dalam Mold akan mengalami berbagai hambatan, seperti melewati celah-celah dan ruang yang sempit, alur yang berilku-liku, pembuatan bentuk produk yang sulit disertai banyaknya bentuk sirip, dll, disamping material itu bersinggungan dengan suhu Mold yang lebih rendah. Dapat dikatakan juga bahwa material cair tersebut harus cepat mengisi seluruh ruang di dalam Mold sebelum terjadi pembekuan/pengerasan material karena bersinggungan dengan suhu Mold yang lebih rendah. Untuk itulah dibutuhkan setting Fill Pressure yang cukup kuat untuk men-Support laju kecepatan material sehingga material akan mengalir melewati hambatan-hambatan tersebut dengan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil produk.
 
Keterangan :
Posisi 171 adalah posisi Injection Ready. Posisi 12 adalah setting V-P Change Over [perubahan dari proses Filling ke Proses Holding], posisi ini didapat dari Injection Ready dikurangi Shoot Size [l], yaitu 171 – 159 = 12. Maka, jika setting Pull Back adalah 5 [perkiraan gas], maka Holding Proses akan berhenti di sekitar 7.

Note : Apabila actualnya tidak seperti yang diperhitungkan, berarti hampir dipastikan adanya masalah pada diameter lubang Barrel, diameter Screw, atau pada Torpedo.

Problem…
Bisa kita lihat pada mesin yang compatible menampilkan grafik proses, atau dengan kita memperhatikan Pressure Gauge selama proses berlangsung. Grafik memperlihatkan bahwa garis actual [Actual Line] bersentuhan dengan garis setting [Setting Line], hal ini memberikan pernyataan bahwa “sebenarnya garis actual lebih tinggi dari garis setting”. Dikarenakan setting yang tersedia untuk proses Filling actual “dipatok” atau dibatasi hanya setinggi garis setting tersebut sehingga ketika menghadapi hambatan diperjalanan proses Filling tidak bisa berbuat banyak.

OK....
Grafik memperlihatkan bahwa garis actual tidak pernah bisa menyentuh garis setting. Fluktuasi yang terjadi yang menunjukkan adanya hambatan selama proses Filling pun masih di bawah garis setting. Ini menunjukkan bahwa Filling Pressure yang kita setting sudah dapat meng-cover hambatan-hambatan yang telah disebutkan di atas.
 
Material yang tidak dapat mengatasi hambatannya akan berakibat pada kecepatan yang kurang dari yang diperlukan, hal ini diperlihatkan oleh garis “Actual Line 1”. Sebelum mencapai V-P Change Over, perjalanan material sudah mencapai titik atau masuk phase pembekuan dimana material sudah mulai mengeras dan sulit untuk dialirkan. Phase pembekuan di gambarkan pada garis “R”. Sebaliknya material yang berhasil mangatasi hambatannya akan memliki kecepatan yang diinginkan sehingga bisa melewati V-P Change Over sebelum masuk phase pembekuan.

Buatlah Setting Fill Pressure lebih tinggi dari Actual Fill Pressure, agar proses Filling tidak terpengaruh terhadap hambatan-hambatan yang ada. Pada mesin Nissei type PS, setting Fill Pressure pada : P1. 


Short Mold Karena Shoot Size Terlalu Pendek



Masalah Short Mold Karena Shoot Size Terlalu Pendek.
Material yang dikeluarkan berbanding lurus dengan produk yang dihasilkan. Misalkan kita masak air 1 liter, maka akan menghasilkan air panas setidaknya 1 liter juga, atau sedikit berkurang karena adanya penguapan. Begitu juga setting parameter Shoot Size pada mesin injeksi yang terdiri dari diameter lubang Barrel dan panjang langkah [L] gerakan Plunyer Injeksi, maka rumus yang digunakan utk menghitung kapasitas injeksi ini adalah sebagai berikut :

Kapasitas Injeksi [C] = (π x Ds² / 4) x L
Dimana, π : 3.14 [ketentuan umum]
Ds : Diameter Screw [berdasarkan spesifikasi mesin]
L : Langkah Screw Torpedo [posisi nol berada di sebelah kiri ; posisi setting : S]

Contoh kasus.

Berdasarkan keterangan dari Produk Designer dan Mold Maker bahwa volume material yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk adalah sebanyak 200 ml, yang dialokasikan untuk Runner dan Produk itu sendiri. Otomatis bila material yang dikeluarkan mesin injeksi kurang dari 200 ml, maka produk yang dihasilkan akan Short Mold.

Data spesifikasi mesin injeksi yang kita punya, Diameter Screw [Ds] adalah sebesar : 40 mm.

* Menentukan panjang langkah [L] dan posisi setting Shoot Size [S].
C = (π x Ds² / 4) x L  
200 ml = (3.14 x 40² / 4) x L  
200000 = 1256 x L  
L = 200000 / 1256 = 159 mm  
Tambahkan 10 mm untuk keamanan mesin, 159 + 10 = 169 mm. Setting Shoot Size [S]. Untuk mencegah Material Drolling, setting Pull Back [Side Back], misal 5 mm. Maka posisi Screw pada Injection Ready [Nissei] adalah 169 + 5 = 174 mm. Pada mesin Nissei PS type [Shoot Size : SM, Side Back : SD]
Namun demikian, setting Pull Back dan Shoot Size bisa sedikit saja lebih panjang karena faktor Gas dan Uap, sehingga sedikit pula mempengaruhi posisi Injection Ready. Perbedaan yang terlalu jauh antara perhitungan dan actual setting bisa terjadi karena adanya Back Flow [dibahas terpisah].

* Mengetahui berat material yang dibutuhkan [gr]. Untuk PS H9152T memiliki massa jenis 1.04 gr/cm³, berdasarkan Material Properties.
Maka 200 ml x 1.04 gr/cm³ = 208 gr.

Masalah Short Mold atau Short Shoot

Masalah Short Mold atau Short Shoot

Masalah Short Mold atau Short Shoot, Short Shot Problem. 

Masalah yg paling populer pada proses injeksi plastik adalah apa yang biasa disebut dengan istilah Short Mold atau Short Shoot. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, atau setidaknya menguranginya, maka kita harus mengetahui bagaimana masalah tersebut bisa terjadi, bagaimana penjelasannya, faktor apa saja yang mempengaruhinya, sehingga kita bisa mengambil tindakan apa yang akan kita lakukan untuk menanganinya. Adapun penyebabnya terdiri lebih dari 40 item, sehingga item-item tersebut menjadi Check Point pada Check Sheet kita, di antaranya yaitu : 

1. Setting Parameter Mesin [Shoot Size, terlalu pendek] 
2. Setting Parameter Mesin [Fill Pressure, terlalu rendah] 
3. Setting Parameter Mesin [Fill Pressure Time, terlalu singkat] 
4. Setting Parameter Mesin [Fill Pressure Speed, terlalu rendah] 
5. Setting Parameter Mesin [Hold Pressure, terlalu rendah] 
6. Setting Parameter Mesin [Hold Pressure Time, terlalu rendah] 
7. Setting Parameter Mesin [V-P Change Over, terlalu tinggi] 
8. Setting Parameter Mesin [Barrel Temperature, terlalu rendah, atau tidak optimal] 
9. Setting Parameter Mesin [Posisi Alignment, Nozle terhadap Sprue Bush] 
10. Setting Parameter Mesin [Nozle, penggunaan nozle yang tidak sesuai, lubang terlalu kecil] 
11. Setting Parameter Mesin [Suhu Dryer, terlalu rendah] 
12. Setting Parameter Mesin [Dryer Time, terlalu singkat] 
13. Setting Parameter Mesin [MTC Temperature, tidak optimum] 
14. Kondisi Mesin [Back flow, Hole Barrel, Over size. Biasanya pada mesin yg sudah lama digunakan] 
15. Kondisi Mesin [Back flow, Screw, Check Ring atau Check Valve telah aus atau mengalami kerusakan]  
16. Kondisi Mesin [Back flow, Screw, Check Ring atau Check Valve terdapat Foreign Material] 
17. Kondisi Mesin [Back flow, Screw Head, mengalami kerusakan] 
18. Kondisi Mesin [Nozle, ujung lubang terdapat aus] 
19. Kondisi Mesin [Nozle, di dalam lubang terdapat Foreign Material] 
20. Kondisi Mold [Gasvent, kurang memadai] 
21. Kondisi Mold [Cooling System, kurang memadai] 
22. Kondisi Mold [Sprue Bush, terdapat aus atau kerusakan] 
23. Kondisi Mold [Gate, terdapat Foreign Material] 
24. Pengaturan Kerja [1st Shoot, proses injeksi di awal operasi mesin] 
25. Pengaturan Kerja [1st Shoot, produk bercampur] 
26. Pengaturan Kerja [1st Shoot, Robot, produk pick-up bermasalah atau vacum/chuck telah rusak] 
27. Pengaturan Kerja [1st Shoot, Robot, posisi sensor kurang baik atau rusak] 
28. Pengaturan Kerja [1st Shoot, Robot, setting tekanan udara tidak sesuai] 
29. Pengaturan Kerja [1st Shoot, suplai material, setting sensor loader tidak sesuai] 
30. Pengaturan Kerja [1st Shoot, suplai material, Loader Stuck karena material] 
31. Pengaturan Kerja [1st Shoot, suplai material, Loader Stuck karena filter tidak bersih] 
32. Pengaturan Kerja [1st Shoot, suplai material, serbuk material mengganggu sensor Loader] 
33. Pengaturan Kerja [1st Shoot, suplai material, delivery material kurang baik] 
34. Pengaturan Kerja [1st Shoot, perubahan setting mesin] 
35. Pengaturan Kerja [1st Shoot, mold additive handling] 
36. Pengaturan Kerja [Mold, Cooling system terdapat kebocoran] 
37. Pengaturan Kerja [Mold, Cooling system tersumbat atau valve tidak terbuka] 
38. Pengaturan Kerja [Mold, penggunaan grease yg terlalu banyak] 
39. Pengaturan Kerja [Mold, Maintenance, gasvent tersumbat karena penumpukan gas deposit] 
40. Pengaturan Kerja [Dryer, Heater bermasalah] 
41. Pengaturan Kerja [Loader, material suplai bermasalah] 
42. Pengaturan Kerja [Informasi, kurang detail pada saat terdapat masalah yang mempengaruhi operasi mesin]



Kamis, 26 Maret 2015

moulding plastik murah produk moulding plastik membuat moulding plastik jasa moulding plastik pembuatan moulding daftar perusahaan moulding molding plastik membuat mainan plastik mesin moulding plastik plastic moulding plastic moulding diy moulding plastik murah mesin moulding plastik jasa pembuatan molding plastik jasa pembuatan molding jasa molding plastik molding plastik percetakan plastik mold maker


moulding plastik murah

produk moulding plastik


membuat moulding plastik

jasa moulding plastik

pembuatan moulding

daftar perusahaan moulding

molding plastik

membuat mainan plastik

mesin moulding plastik

plastic moulding

plastic moulding diy

moulding plastik murah

mesin moulding plastik

jasa pembuatan molding plastik

jasa pembuatan molding
jasa molding plastik
molding plastik
percetakan plastik
mold maker

=========================
moulding plastik murah

produk moulding plastik

membuat moulding plastik

jasa moulding plastik

pembuatan moulding

daftar perusahaan moulding

molding plastik

membuat mainan plastik

mesin moulding plastik

plastic moulding

plastic moulding diy

moulding plastik murah

mesin moulding plastik

jasa pembuatan molding plastik

jasa pembuatan molding
jasa molding plastik
molding plastik
percetakan plastik
mold maker

==========================


moulding plastik murah

produk moulding plastik

membuat moulding plastik

jasa moulding plastik

pembuatan moulding

daftar perusahaan moulding

molding plastik

membuat mainan plastik

mesin moulding plastik

plastic moulding

plastic moulding diy

moulding plastik murah

mesin moulding plastik

jasa pembuatan molding plastik

jasa pembuatan molding
jasa molding plastik
molding plastik
percetakan plastik
mold maker

Senin, 23 Maret 2015

Jasa Pembuatan Gear Khusus dengan Mesin Bubut

Jasa Pembuatan Gear Khusus dengan Mesin Bubut

 


Perusahaan anda sedang memerlukan spare part untuk mesin berupa gear yang ukuran dan bentuknya khusus dan tidak akan didapatkan di pasaran? Maka solusinya adalah membuat gear tersebut dengan menggunakan mesin bubut. Material yang digunakan juga harus disesuaikan dengan spare part original atau jika tidak tersedia di lokal maka dapat diganti dengan bahan lain yang memiliki kualitas sama / mendekati sehingga tidak akan merubah fungsi dari gear tersebut.
Mesin-mesin yang diimport dari luar negeri, seringkali jenis spare partnya menggunakan bentuk dan ukuran yang aneh, tidak tersedia bebas di pasaran. Seehingga anda pasti akan kesulitan dalam melakukan perbaikannya. Spare part harus didatangkan langsung dari produsen mesin tersebut dan seringkali memerlukan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Dengan adanya jasa pembuatan gear dari bengkel bubut kami, maka anda tidak akan mengalami kesulitan. Bengkel bubut CNC kami sudah sangat berpengalaman dalam menangani kebutuhan spare part seperti ini. Dengan pengerjaan di dalam negeri, maka anda dapat menghemat waktu dalam melakukan perbaikan mesin sehingga mesin anda dapat segera berfungsi normal kembali. Hal ini tentunya akan meminimalisir kerugian dalam segi waktu akibat mesin berhenti bekerja.
Jasa pembuatan gear khusus dengan mesin bubut ini bisa dilakukan dengan 2 cara. yang pertama adalah menggunakan techincal drawing berupa file CAD dengan ukuran rinci untuk spare part gear yang dibutuhkan. Atau bisa juga dengan membuat copy model dari gear yang sudah rusak. Gear asli akan dianalisis dan dipilih material yang sama persis atau mendekati kualitasnya.
Kami dapat membuat spare part gear dengan berbagai ukuran dan diameter. Bengkel bubut kami memiliki mesin bubut manual, bubut CNC, milling, pond, dan berbagai mesin lainnya untuk mensupport kebutuhan semua konsumen kami.